«

»

DIGITAL LITERASI UNTUK TANGKAL HOAX

20180418_105240

Surabaya, 18/4/2018. Media online saat ini menjadi pilihan sebagian orang untuk memberikan informasi, namun seringkali informasi yang mereka berikan belum mencantumkan sumber ataupun belum jelas kebenarannya.

Profesor Rachmah Ida, M.Comms, PhD, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya, dalam pertemuan Bakohumas Provinsi Jawa Timur yang digelar pagi (18/4) tadi di Aula Lantai IV Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur menjelaskan bahwa digital literasi diperlukan untuk memfilter informasi yang beredar luas di masyarakat.

“digital literasi ini merupakan kemampuan untuk mengakses sumber-sumber informasi dan secara kritis mengevaluasi dan membuat informasi melalui teknologi digital”, ujarnya. Profesor Ida juga menjelaskan bahwa penyebaran berita palsu (hoaxes), ujaran kebencian (hate speech), cyberbullying, kelompok teroris dan radikal menggunakan media sosial untuk menarik gerakan mereka dan ketergantungan yang tinggi atau kecanduan terhadap internet adalah indikasi dari perlunya gerakan literasi digital.

“terdapat 132.7 juta pengguna internet aktif di Indonesia, tetapi masih belum mampu untuk melakukan ketelitian dalam menggunakan dan memilih internet konten yang disirkulasikan”, imbuhnya.

Lebih lanjut, Profesor Ida juga mengatakan, literasi digital sendiri belum dilihat sebagai sebuah kebutuhan dan urgensi untuk mendidik masyarakat dengan penggunaan internet dan konsumsi konten internet dan media sosial.

Senada dengan Profesor Ida, Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol F. Barung Mangera , S.I.K dalam forum Bakohumas ini juga menyampaikan bahwa penyebaran Hoax dan ujaran kebencian tujuannya untuk membentuk opini publik yang tujuannya untuk kepentingan pribadi atau golongan.

“ada 4 cara untuk memastikan, yaitu dengan membaca informasi tersebut secara utuh, lihat lebih detail dan teliti isinya, kemudian tanyakan kepada penyebar informasi, dari manakah asal informasi tersebut, setelah itu lakukan pengecekan sumber informasi, apakah dari media yang kredibel dan terakhir yaitu memastikan melalui search engine apakah ada informasi yang sama”, ujar Kompol F. Barung

Menurut Kompol F. Barung, mengajari masyarakat akan ciri-ciri konten yang mengandung hoax dan sara, penting dilakukan agar penyebaran hoax tidak semakin menjadi-jadi. “bangun networking dengan masyarakat ataupun netizen agar segala bentuk berita hoax, ujaran kebencian, dan juga konten-konten yang mengandung SARA dapat segera ditindak dan direport dengan cepat”, pungkasnya. (SD)

 

 

Yahoo! Status Checker by Techya