Probolinggo, 24/5/2017. Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Probolinggo memberikan pelatihan jurnalistik bagi Pranata Humas se-Kota Probolinggo dan para perwakilan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) se- Kota Probolinggo. Acara ini digelar di ruang rapat Bakesbang Kota Probolinggo dan dihadiri tidak kurang dari 60 orang peserta.
Aries Santoso, Kepala Bidang Informasi Publik Diskominfo dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini dilaksanakan guna memberikan ilmu jurnalistik, khususnya tentang teknik penulisan berita dan press release kepada para peserta. “selain itu juga dapat membuka wawasan pola pikir peserta mengenai apa itu jurnalistik serta diharapkan nantinya para peserta dapat mempraktekkannya di OPD masing-masing dengan membuat berita tentang program dan kegiatan OPDnya yang nantinya dapat di upload di website masing-masing OPD dan juga bisa diterbitkan di majalah atau tabloid pada OPDnya jika memang ada”, ujar Aries.
Dalam acara ini, dihadirkan narasumber dari Radar Bromo (Jawa Post Group), Muhammad Fahmi, S.Sos. Pada kesempatan tersebut, Fahmi menyampaikan materi tentang Jurnalistik Asyik. “informasi itu jika tidak dituliskan itu adalah curhat, tetapi jika dituangkan dalam bentuk tulisan, itu namanya berita”, ungkap Redaktur Senior Radar Bromo tersebut.
Menurut Fahmi, pers banyak sekali fungsinya, selain untuk menginformasikan, pers juga berfungsi untuk memberikan pelajaran atau edukasi, untuk mengontrol, sebagai jembatan dan juga untuk menghibur. Untuk mengaplikasikan jurnalistik pada pemerintahan, Fahmi mengatakan bahwa aparatur pemerintah dapat membuat press release dan juga dapat membuat berita untuk dimuat dalam website OPD, majalah ataupun media massa lainnya.
“secara esensi, menulis berita adalah melaporkan seluh beluk peristiwa yang telah, sedang atau akan terjadi. Melaporkan disini berarti menuliskan apa yang dilihat, didengar atau dialami oleh seseorang atau sekelompok orang. Berita itu ditulis sebagai rekonstruksi tertulis dari apa yang terjadi”, ujarnya.
Menurut Fahmi, dalam mencari berita, harus melakukan setidaknya 4 (empat) hal, yaitu wawancara, reportase, investigasi dan study literasi. “berita itu ada beberapa ragam, diantaranya straight news, depth news dan features”, imbuhnya.
Fahmi mengatakan, jika straight news sifatnya mengandalkan kekuatan aktualitas dan penulisannya mendahulukan informasi terpenting dengan teori KISS (Keep It Short and Simple) serta dengan susunan berita berupa piramida terbalik, maka untuk depth news, menjelaskan lebih dalam mengenai fenomena/isu/peristiwa yang dibahas, sedangkan features cenderung mengungkapkan sisi human interest dan membutuhkan kemampuan untuk mendeskripsikan.
“agar tulisan kita dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, gunakan kalimat pendek, gunakan kata yang lazim dan tidak membingungkan pembaca, hindari istilah asing dan istilah teknis yang kurang perlu, antar paragraf harus saling menjelaskan, berkisahlah pada pembaca dan membacalah, lalu tuliskan”, ujarnya. (SD)

