Probolinggo, 5/6/2017. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo secara resmi merilis perkembangan indeks harga konsumen/inflasi Kota Probolinggo Bulan Mei 2017. Dalam rilisnya, BPS menyebutkan bahwa terjadi inflasi sebesar 0.37 persen di Bulan Mei 2017.
Mochammad Machsus, Kasi Statistik Distribusi BPS Kota Probolinggo, saat ditemui mengatakan, inflasi ini disebabkan karena dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, 3 (tiga) kelompok mengalami inflasi, 3 (tiga) kelompok mengalami deflasi dan 1 (satu) kelompok tidak mengalami perubahan.
“terjadi kenaikan pada kelompok bahan pangan sebesar 0,09 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar sebesar 0,61 persen, kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0.37 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan yaitu kelompok makanan jadi sebesar 0.13 persen, kelompok sandang sebesar 0,06 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,10 persen dan kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan yaitu kelompok kesehatan”, ujar Machsus.
Menurut Machsus, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah telur ayam ras, tarif listrik, bawang putih, kopi bubuk, bensin, pertamax, dan pertalite, ikan kembung, daging ayam kampung, tomat sayur, sepeda motor dan lainnya.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi yaitu gula pasir, daging sapi, pepaya, emas perhiasan, air kemasan, ikan merah, cabai rawit, tarif pulsa ponsel, bawang merah, pisang dan lain-lain.
“dari 8 (delapan) kota di Jawa Timur yang menjadi kota IHK (Indeks Harga Konsumen) Nasional, semuanya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi dialami Kota Malang sebesar 0,82 persen, disusul Sumenep sebesar 0,66 persen, Kota Madiun sebesar 0,58 persen, Kota Kediri sebesar 0,50 persen, Kota Surabaya sebesar 0,39 persen, Kota Probolinggo sebesar 0,37 persen, Jember sebesar 0,36 persen dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 0,33 persen”, imbuhnya. (SD)

