KEDOPOK – Hari ini (31/7), umat muslim di seluruh dunia merayakan Idul adha 1441 H. Suka cita merayakan kemenangan besar ini ditandai dengan penyembelihan hewan kurban berupa sapi , kambing atau domba.
Namun di Kota Probolinggo, kemeriahan lebaran haji tak hanya diwarnai dengan penyembelihan hewan kurban saja. Melainkan juga dilalui dengan agenda peletakan batu pertama pembangunan masjid. Setidaknya, itulah yang terjadi siang tadi di dua titik lokasi di Kecamatan Kedopok.
Sekira pukul 2 siang, Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin tiba di lokasi pertama di Jalan Kedondong RT 04 RW 01 Kelurahan Kareng Lor.
Di lokasi ini, akan dibangun masjid besar bernama Baitul Izzah, yang berdiri diatas tanah wakaf dari seorang warga setempat bernama Siti Fatimah.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baitul Izzah, Saniman, mengatakan, pembangunan masjid seluas 850 meter persegi itu, dirasa cukup strategis. Karena di kawasan itu, katanya, berada di persimpangan jalan yang menghubungkan dua kelurahan. Yakni, Kareng Lor dan Sumber Wetan.
Selain itu, lanjutnya, keberadaan mesjid itu sendiri memang sudah dinantikan warga sekitar, karena selama ini warga menunaikan ibadah shalat, di langgar-langgar kecil.
“Disini kebetulan memang belum ada (masjid). Harapannya dengan keberadaan mesjid ini, makin menggeliatkan semangat belajar agama anak-anak dan warga sekitar dalam melaksanakan shalat secara berjamaah serta bagi mereka yang melakukan i’tikaf (di masjid),” ujarnya.
Sebagai bentuk rasa bangga akan keberadaan masjid itu, masyarakatpun berlomba-lomba berpartisipasi menyumbangkan sebagian rejekinya untuk pembangunan masjid.
“Ada yang berupa uang, tapi kebanyakan (sumbangan berupa) barang. Seperti bata, kayu, semen dan bahan-bahan material pembangunan lainnya,” terangnya.
Di lokasi kedua, Wali Kota Probolinggo singgah ke Jalan Bengawan Solo RT 01 RW 02 Kelurahan Jrebeng Kulon. Di area ini akan dibangun masjid Baiturrohim.
Berbeda dengan lokasi sebelumnya, lokasi pembangunan mesjid ini berada persis di pinggir jalan.
Pembangunan masjid seluas 300 meter persegi diatas lahan pribadi milik keluarga Mahrus Ali itu, sejatinya adalah buah dari keinginan ayahnya yang mengincar tanah kavling di sebelah barat rumahnya untuk dibangun rumah ibadah bagi masyarakat sekitar. Bak gayung bersambut, pada Ramadan lalu, keinginan tersebut pun terwujud.
“Kami berharap, karena lokasinya di pinggir jalan, nantinya masjid ini selain bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, juga bisa menjadi jujugan para pengguna jalan yang melintas kawasan Bengawan Solo, untuk menunaikan ibadah,” harapnya.
Sementara itu, Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin, dalam sambutannya mengatakan, masjid sebagai sarana rumah ibadah, Baitullah, keberadaannya harus didukung dengan pengembangan syi’ar agama Islam. Sehingga tak hanya terlihat megah secara fisik saja, namun juga pemanfaatannya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Termasuk upaya menggiring masyarakat sekitar khususnya, lebih meningkatkan ketaqwaannya.
“Jangan hanya mengandalkan kemewahan dan kebesaran (fisik masjidnya) saja, tapi bagaimana upaya memakmurkan masjidnya. Masyarakat sekitar juga harus kompak, karna pembangunan mesjid nikah ibarat taneman gebey sanguh neng aherat (karna pembangunan masjid ini ibarat tanaman, sebagai bekal kita menuju akhirat),” katanya.
Sebelum bertolak, Habib Hadi berpesan kepada warga, apabila nanti masjid yang diidam-idamkan selesai pembangunanya, agar dirawat dan dijaga dengan baik, serta menjadikan keberadaannya sebagai sarana mempertebal keimanan.
“Jek entar ke mesjid ben areh Jumat beih, areh laennah sobung oreng. Deggik le-billeh, buleh detengah sobbu, mun pas tadek oreng, e tok-tok sebeden labeng compoknah sampiyan. (Jangan ke masjid hanya untuk menunaikan shalat Jumat di hari Jumat saja, sementara hari lainnya tidak. Suatu hari nanti, saya akan datang pada waktu subuh tiba, kalau waktu itu saya tak menemukan orang di masjid, maka saya akan mengetuk pintu tiap-tiap rumah anda sekalian),” tandasnya. (Sonea)
