


KANIGARAN – Nampak bendera merah putih dikibarkan setengah tiang di halaman kantor Wali Kota Probolinggo, jalan Panglima Sudirman Nomor 19. Suasana Kota Probolinggo pagi tadi, Rabu (9/12) begitu syahdu.
Guyuran hujan gerimis dan awan mendung, seolah turut berduka atas meninggalnya salah satu putera terbaik Kota Probolinggo, Wakil Wali Kota Mochammad Soufis Subri.
Hadir sejumlah anggota Forkopimda, pejabat pemkot, ASN dan PTT, tokoh agama, tokoh masyarakat dan awak media yang menunggu kedatangan jenasah Wawali Subri dalam perjalanan dari Surabaya.
Sekitar pukul 12 siang, mobil ambulans tiba di kantor wali kota dan segera dilakukan sholat jenasah di halaman kantor pemkot, dipimpin Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin.
“Kami atas nama Pemerintah Kota Probolinggo yang mana selama ini menemani saya di pemerintahan, dalam waktu dua tahun ini, kita melakukan untuk kemaslahatan masyarakat. Mudah-mudahan ini (kerjanya), menjadi amal ibadahnya,” tutur wali kota menahan isak tangis yang kemudian diikuti kata aamiin para pelayat.
Wali kota menyampaikan rasa dukanya yang sangat mendalam itu. “Saya sangat kehilangan, bukan hanya keluarganya. Karena kami berdua betul-betul saling mengisi satu sama lainnya. Upaya dan ikhtiar sudah kita lakukan dan waktunya memang kita berpisah. Dan mudah-mudahan dalam perjuangan ini bisa kita lakukan, sesuai dengan janji yang kita ambil di awal untuk meneruskan demi kemaslahatan masyarakat Kota Probolinggo,” ucapnya.
Menurut orang nomor satu di Kota Probolinggo itu, rasa kehilangan salah satu sahabat terbaiknya karena setiap waktu ia berdiskusi, bertukar pikiran untuk melakukan yang terbaik demi Kota Probolinggo.
Sementara itu, Sekda drg. Ninik Ira Wibawati dengan menahan tangis membacakan profil singkat almarhum Wawali Subri.
Iring-iringan mobil Dishub, kepolisian melaju mengikuti mobil ambulans di depannya hingga tiba di pemakaman keluarga di Kelurahan Kebonsari Kulon.
Sebelum masuk area pemakaman, warga dan keluarga yang sudah menunggu pun diberi kesempatan mensholati jenasah Wawali Subri dalam suasana yang masih hujan.
Dari awal hingga akhir prosesi pemakaman, dengan setianya Wali Kota Habib Hadi mengawal hingga di peristirahatan terakhir sahabatnya itu. Ia tak segan mengingatkan dan mengatur kerumunan pelayat untuk menjaga jarak di area pemakaman.
Tujuh orang berpakaian APD lengkap, mengeluarkan peti jenasah Wawali Subri dari mobil ambulans. Nampak istri dan anak semata wayangnya juga berpakaikan APD lengkap duduk di kursi plastik melihat untuk terakhir kalinya peti itu diturunkan ke liang lahat.
Ya, disanalah tempat peristirahatan Wawali Subri. Rupanya makam keluarga sudah dipersiapkan bersanding dengan kedua orang tuanya, kakak kandung perempuan dan mbah buyut laki perempuan, Wawali Subri tidur tenang untuk selama-lamanya. (dewi)
