Probolinggo, 4/3/2015. Setelah mengalami deflasi sebesar 0,20 persen pada awal tahun 2015 lalu, Kota Probolinggo kini kembali mengalami deflasi sebesar 0,42 persen di bulan Februari. “secara keseluruhan, dari 8 kota di Jawa Timur yang menjadi kota IHK Nasional, semuanya mengalami deflasi”, ujar Surya Astuti, Kepala BPS Kota Problolinggo saat melakukan talkshow di ruang dialog Radio Suara Kota Probolinggo pada selasa (3/3) lalu.
Menurut Surya, deflasi Kota Probolinggo pada bulan Februari ini terjadi meskipun dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, hanya 3 (tiga) kelompok yang mengalami deflasi, sedangkan 4 (empat) kelompok lainnya mengalami inflasi. “kelompok yang mengalami penurunan dan mendorong deflasi adalah kelompok bahan makanan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan”, terangnya.
Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan harga menurut Surya adalah kelompok makanan jadi, kelompok perumahan dan air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok sandang dan kelompok kesehatan.
Masih menurut Surya, komoditas yang memberikan sumbangan besar atas terjadinya deflasi ini adalah bensin, solar, telur ayam ras, cabai merah, angkutan dalam kota, cabai rawit dan lainnya. “sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah beras, baju kaos berkerah, jeruk, tongkol, pindang, kulkas, sepeda motor, tarif listrik dan lainnya”, lanjutnya.
Dari 8 (delapan) kota di Jawa Timur yang menjadi kota IHK Nasional, semuanya mengalami deflasi dan Kota Probolinggo menempati posisi terakhir. “deflasi terbesar terjadi di Banyuwangi, kemudian Kediri, Kota Malang, Sumenep, Jember, Kota Madiun, dan terakhir yaitu Kota Probolinggo dan Kota Surabaya”, ujar Surya.
Pada bulan Februari ini menurut Surya, Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,52 persen, sedangkan untuk Nasional, mengalami deflasi sebesar 0,36 persen. “penghitungan terjadinya inflasi dan deflasi ini berdasarkan indeks harga konsumen, di Kota Probolinggo sendiri penghitungannya didasarkan pada hasil pemantauan harga barang dan jasa yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik-red) pada pasar tradisional dan pasar modern di Kota Probolinggo, yaitu di pasar baru, pasar Wonoasih dan Giant Hypermart”, terang Surya. (SD)
