Probolinggo – Dalam rangka Semipro, Hari jadi Kota Probolinggo ke-658 dan HUT RI ke-72, Pemerintah Kota Probolinggo menggelar Pawai Budaya yang diikuti oleh 46 peserta. Acara yang diselenggarakan pada hari Minggu (03/09) tersebut diikuti oleh tiga peserta dari luar Kota Probolinggo yakni dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo.
Didit Irwanto, ketua panitia kegiatan ini menjelaskan, tujuan pawai budaya kali ini sesuai dengan tema Semipro tahun 2017, “Lokal Berbudaya”. “Kali ini pemerintah Kota Probolinggo khusus mengangkat, menggali, mengembangkan dan mempromosikan budaya lokal khas Probolinggo. Sehingga mayoritas peserta pawai berasal dari Kota Bayuangga. Hal inilah yang membedakan pawai budaya kali ini dengan tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.
Sementara ketiga peserta yang berasal dari luar Kota Probolinggo juga mengusung budaya lokal milik mereka. Kabupaten Sleman menghadirkan penampilan Mega Ngampak dengan 90 personel. Sedangkan Kabupaten Malang membawakan penampilan Loro Blonyo yang merupakan manifestasi dari Dewi Sri dan Raden Sadono sebagai lambang kesuburan. Pada penampilan ini dikisahkan Dewi Sri turun dari khayangan untuk memberikan kesuburan di tanah Jawa.
Berikutnya adalah peserta dari Kabupaten Probolinggo dengan jumlah personel 46 orang yang menampilkan tari re re re. Tarian yang menggambarkan keceriaan sekelompok muda mudi yang sedang bersenda gurau dengan iringan khas bebunyian Pendalungan, yaitu kenong telok.
Didit mengatakan, peserta lainnya diantaranya terdiri dari instansi pemerintah, perusahaan, perbankan, dan perwakilan dari etnis yang ada di Probolinggo. “Penampilan etnis diantaranya terdiri dari Tionghoa, Arab, Jawa dan Madura. Selain itu perwakilan dari agama juga ada seperti kelompok agama Hindu dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI),” jelasnya kepada Suara Kota.
Peserta urutan paling depan, menurut Didit adalah Paskibraka 2017, selain berada di barisan depan, paskibraka ini juga ada pada setiap kontingen yang bertugas membawa papan nama. Urutan kedua adalah penampilan dari korsik Manggala Praja binaan dari Dinas Satpol PP Kota Probolinggo.
“Dengan kegiatan seperti ini mudah – mudahan Kota Probolinggo menjadi kota yang berbudaya, dapat menelorkan kesenian yang bagus, dan menumbuh kembangkan budaya asli Kota Probolinggo. Mudah – mudahan pawai budaya tahun depan lebih semarak dan lebih banyak diikuti oleh budaya-budaya lokal Kota Probolinggo,” harap laki-laki yang juga Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Probolinggo itu.
Pawai taun ini juga tampak berbeda, karena panitia mengambil start dari jalan Suroyo. Tepatnya di depan rumah makan padang Beejay dan finish di depan kantor pemerintah kota jalan Panglima Sudirman.
“Rute ini memang diperpendek dengan jarak kurang lebih 1 kilometer, dengan tujuan mempersingkat waktu. Sehingga sebelum maghrib pawai sudah selesai, dengan begitu tidak mengganggu umat muslim yang akan beribadah,” jelasnya.
Pertimbangan lain, dikondisikan untuk para jamaat gereja disekitar rute pawai yang beribadah pada sore hari. Seperti di gereja Bunda Maria Karmel bisa masuk melalui arah selatan dan parkir di jalan panglima sudirman.
“Dengan rute yang pendek ini, antisipasi pengamanan telah dilakukan untuk mengatasi membludaknya penonton. Hal ini sudah kita koordinasikan dengan pihak keamanan. Di antaranya, satpol PP, Dishub, Kepolisian dan TNI,” tandasnya. (Art*)
