KANIGARAN – “Saya melihat banyak potensi di kalangan peserta lomba terkait dengan pidato yang mereka sampaikan dari sisi materi, gaya bahasa, vokal dan sebagainya. Tetapi masih banyak juga yang perlu diperbaiki,” ujar Ustad Gufron yang ditemui usai menjadi juri Grand Final Lomba Pidato Bahasa Indonesia Virtual, Minggu (18/10) sore, di Puri Manggala Bhakti Kantor Wali Kota.
Ustad Gufron menuturkan terkait lomba pidato ini, ia menilai beberapa anak memiliki potensi alamiah, tanpa mereka latihan berulang sudah bisa berpidato. “Dilihat dari segi improvisasi yang membedakan mereka belajar menghafal atau memang memiliki potensi alamiah,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap kepada lembaga, dewan guru dan Pemerintah Kota Probolinggo untuk mendukung penuh seluruh kegiatan Hari Santri Nasional, tidak hanya pada lomba pidato saja. “Tentu adanya pembinaan yang berkelanjutan. Hal ini menjadi PR bagi kita semua untuk membimbing dan mendidik mereka, agar potensi yang ada bisa dikembangkan lebih baik lagi sehingga mengangkat nama Kota Probolinggo di kancah yang lebih tinggi, ” harapnya.
Harapan yang sama juga diutarakan Kabid Kebudayaan Disdikbud Sardi. Menurutnya lomba pidato ini menyiapkan generasi muda agar percaya diri dan pemahamannya lebih baik lagi.

Adapun jumlah peserta yang mendaftar dalam lomba ini sebanyak 35 orang. Dan yang berhasil menorehkan juaranya adalah M. Iwan, M. Ali Nurul Alam, Uswatun Hasanah, Ilhamul Hasan, Nur Admda Putri dab M. Abdul Faiz. Bertindak sebagai juri Ustad Gufron Hadi, Ustad Fatkhul Mukhlas dan Ustad M. Agus Saifudin.
M. Iwan, asal Desa Pandansari, Lumajang sebagai Juara I Lomba Pidato Bahasa Indonesia mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, bangga. Saya jarang latihan, namun pernah menjuarai lomba pidato tingkat Provinsi Jawa Timur juga tingkat Kota Probolinggo,” ucap siswa kelas X MA Riyadlus Solihin itu.
Hadiah berupa trophy, uang pembinaan dan piagam diberikan kepada 6 peserta lomba. Dengan kemenangan ini Iwan berharap lebih rendah hati dan tidak sombong. (dewi)
