Probolinggo, 3/11/2015. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat, bulan Oktober 2015 terjadi inflasi sebesar 0,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 120,64 persen. Kepala BPS Kota Probolinggo, Surya Astuti ketika ditemui usai melakukan dialog interaktif di Radio Suara Kota Probolinggo mengungkapkan, Inflasi ini terjadi karena dari 7 kelompok pengeluaran, 5 diantaranya mengalami inflasi, sedangkan 2 lainnya mengalami deflasi.
“inflasi ini dapat dilihat dari adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga pada kelompok makanan jadi sebesar 0,37 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,19 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,21 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,10 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen”, terang Surya.
Sedangkan 2 kelompok lainnya yang mengalami deflasi menurut Surya adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,38 persen dan kelompok sandang sebesar 0,01 persen. Dari 8 kota di Jawa Timur yang menjadi Kota IHK Nasional, 4 kota mengalami inflasi dan 4 lainnya mengalami deflasi.
“inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 0,15 persen, disusul Kota Madiun sebesar 0,10 persen, Kota Malang sebesar 0,03 persen dan Kota Probolinggo sebesar 0,02 persen. Sedangkan kota yang mengalami deflasi antara lain Kediri sebesar 0,04 persen, Jember sebesar 0,05 persen, Banyuwangi sebesar 0,25 persen dan deflasi terbesar terjadi di Surabaya sebesar 0,34 persen”, imbuh Surya.
Untuk laju inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2015 Kota Probolinggo, Surya menambahkan, terjadi inflasi sebesar 1,64 persen dan untuk laju inflasi year on year (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) Kota Probolinggo sebesar 5,19 persen. (SD)

