KANIGARAN – Puluhan orang di setiap grup, terlihat asyik memainkan alat musik tradisional seperti saron, demung, kendang, gong dan kempul, rebana, dug dug (kentongan besar) juga tong. Jenis musik tradisional ini mulanya diciptakan untuk parade jalan, semisal karnaval. Namun berkenaan dengan masa pandemi, maka panitia menyelenggarakan giat ini dari dalam gedung.
Itulah yang tergambarkan saat Parade Musik Tradisional, Minggu (22/11) malam, yang digeber Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) dalam pelestarian dan pengelolaan keragaman budaya khususnya pembinaan sejarah dan tradisi di Kota Probolinggo. Sebagaimana diungkapkan Kepala Dispendikbud Moch Maskur saat ditemui disela acara berlangsung dalam acara parade musik tradisional virtual, yang dimulai pukul 19.00 WIB.

Acara yang digelar di Gedung Kesenian itu menampilkan tiga grup musik tradisional, diantaranya adalah grup musik perkusi dari Lake Lare Kebonsari Wetan (membawakan lagu Yalal Wathon, Kidung Wahyu Kolosebo, Ilahilastulil Firdaus dan Pajjer Laggu); Grup Lembu Ireng dari Kebonsari Kulon (membawakan lagu Kota Bestari, Ilir-ilir, Bapak Tani, Tanduk Majeng); dan Grup Sawunggaling dari Kelurahan Wiroborang (membawakan lagu Mars Sawunggaling Colaboration, Impen-impenen, Ronjengan A Goyang dan Kotaku Probolinggo Menawan). Ketiganya tampil secara bergantian setiap masing-masing lagu yang disiarkan secara virtual melalui live streaming media sosial (medsos) Pemerintah Kota Probolinggo, mulai dari facebook, instagram dan youtube.
Dengan membatasi jumlah penonton yang ada di dalam gedung itu, panitia tetap menerapkan protokol kesehatan. “Namun demikian kami sebagai pemangku tugas masalah seni budaya, kami adakan dengan menggunakan virtual sehingga tidak terlalu banyak mengundang kerumunan orang,” ujar Maskur.

Disinggung soal harapannya atas terselenggaranya giat ini, Maskur berharap pelaku seni tidak vakum, harus tetap eksis dan harus punya inovasi. “Harus tetap punya kreatifitas walaupun di masa pandemi. Dengan seni parade musik tradisional ini kami berharap dapat mempertahankan dan meningkatkan agar masyarakat lebih paham dan lebih tau tentang musik tradisional yang kita miliki. Semoga para regenerasi seniman betul-betul bisa siap untuk tampil selanjutnya,” harap pria 58 tahun itu.
Sementara itu salah seorang penonton Feri warga Jrebeng Lor mengungkapkan mengaku bangga dan kagum di Kota Probolinggo banyak grup musik tradisional di tengah era modernisasi. “Ya bangga lah, apalagi karya anak muda memainkan alat-alat musik tradisional dengan terampil, apik, membangkitkan semangat penonton. Inilah generasi milenial sesungguhnya di era modernisasi,” ungkapnya pria yang manggut-manggut saat penyaksikan tampilan malam itu. (dewi)
