Probolinggo, 3/2/2015. Setelah mengalami inflasi sebesar 2,15 persen pada akhir tahun lalu, akhirnya pada bulan Januari 2015 ini Kota Probolinggo mengalami deflasi sebesar 0,20 persen. Deflasi ini terjadi meskipun dari 7(tujuh) kelompok pengeluaran, hanya 1(satu) kelompok yang mengalami deflasi sedangkan 6 (enam) lainnya mengalami inflasi.
Komoditas yang memberikan sumbangan besar terjadinya deflasi ini adalah bensin, solar, cabai merah, cabai rawit, daging sapi, kelapa, tempe, jeruk, angkutan antar kota, buncis dan lain-lain. Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan besar terjadinya inflasi adalah emas perhiasan, telur ayam, tarip kereta api, daging ayam ras, bawang merah dan lain-lain.
Dari 8 kota di Jawa Timur yang menjadi Kota IHK (Indeks Harga Konsumen) Nasional, 5 (lima) kota mengalami deflasi dan 3 (tiga) lainnya mengalami inflasi. Selain Kota Probolinggo, kota lain yang juga mengalami deflasi adalah Kota Madiun sebesar 0,05 persen, Kota Kediri sebesar 0,19 persen, Jember sebesar 0,24 persen dan Sumenep yang paling besar mengalami deflasi yaitu 0,27 persen.
Sedangkan 3 (tiga) kota yang mengalami inflasi yaitu Kota Malang sebesar 0,04 persen, Banyuwangi sebesar 0,08 persen dan Kota Surabaya dengan inflasi tertinggi yaitu sebesar 0,41 persen.
Penghitungan inflasi Probolinggo pada tahun 2015 ini, didasarkan pada hasil pantauan dan pendataan harga barang dan jasa yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada beberapa pasar di Kota Probolinggo, baik pasar tradisional maupun modern, seperti Pasar Baru, Pasar Wonoasih dan Giant Hypermart.
Kepala BPS Kota Probolinggo, Surya Astuti saat ditemui di Radio Suara Kota Probolinggo mengungkapkan bahwa Indeks Harga Konsumen merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga. “inflasi atau deflasi di tingkat konsumen khususnya di daerah perkotaan, kita ukur dengan IHK karena ini merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu tersebut dapat menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga”, ujar Surya, sapaan akrab perempuan berhijab tersebut.
Dari hasil pemantauan harga pada bulan Januari 2015, di Kota Probolinggo terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari 118,72 pada bulan Desember 2014, turun menjadi 118, 52 pada bulan Januari 2015. Dari data tersebut, didapatkan hasil Kota Probolinggo mengalami deflasi sebesar 0,20 persen.
Surya menambahkan, perjalanan series data inflasi selama tahun 2009 sampai dengan 2015 ini, pada bulan Januari terjadi 6 (enam) kali inflasi dan 1 (satu) kali deflasi.
“selama tujuh tahun terakhir (2009 sampai dengan 2015) di bulan Januari, terjadi enam kali inflasi dan sekali deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2013 sebesar 1,02 persen, kemudian tahun 2011 sebesar 0,95 persen, tahun 2010 sebesar 0,71 persen, tahun 2012 sebesar 0,52 persen, tahun 2009 sebesar 0,16 persen dan di 2015 ini baru mengalami deflasi sebesar 0,20 persen”, ujar Surya menutup pembicaraan. (SD)
