MARET, KOTA ALAMI DEFLASI 0,29 PERSEN

deflasi

Probolinggo, 4/4/2017. Bulan Maret 2017, Kota Probolinggo mengalami deflasi sebesar 0.29 persen. Deflasi ini terjadi karena dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, 3 (tiga) kelompok mengalami deflasi, 3 (tiga) kelompok mengalami inflasi sedangkan 1 (satu) kelompok tidak mengalami perubahan.

Hal ini seperti disampaikan Kasi Statistik Distribusi BPS Kota Probolinggo, Mocahammad Machsus. Machsus mengatakan, penurunan harga pada kelompok bahan makanan sebesar 1,62 persen, penurunan harga pada kelompok sandang sebesar 0,05 persen dan penurunan harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,08 persen mengakibatkan hal tersebut.

“sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks antara lain kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,60 persen, kelompok perumahan, listrik, gas & bahan bakar sebesar 0,06 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,19 persen. Untuk kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olaharaga”, ujarnya.

Machsus mengatakan, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalah beras, tarif pulsa ponsel, ikan, daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, dan cabai rawit. Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi adalah tarif listrik, minyak goreng, bawang merah, pisang, oli, bensin pertalite dan pertamax, sabun deterjen dan sosis daging sapi.

“dari 8 kota di jawa timur yang menjadi kota IHK nasional, semuanya mengalami deflasi. Deflasi terendah terjadi di Surabaya dan Kota Madiun sebesar 0,06 persen, disusul Kota Malang sebesar 0,09 persen, kemudian Kota Kediri sebesar 0,13 persen, disusul Jember dan Sumenep sebesar 0,15 persen, Banyuwangi sebesar 0,20 persen dan deflasi tertinggi terjadi di Kota Probolinggo yaitu sebesar 0.29 persen”, ungkapnya. (SD)