Masih Ada Dua Hal Yang Perlu Diperhatikan
Usai menggondol pulang piala Adipura untuk kesebelas kalinya, Jumat (4/8) lalu, Kota Probolinggo menggelar arak-arakan. Penghargaan prestisius di bidang lingkungan mampu dipertahankan selama 11 tahun berturut-turut tersebut, Rabu (2/8) malam sebelumnya, diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar kepada Wali Kota Rukmini di Gedung Manggala Wanabakti Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.
Tak hanya Adipura, 4 piala lainnya, berupa Adiwiyata Mandiri untuk SDN Sukabumi 2, SDN Kedungasem 4, SMPN 7 dan MAN 2 juga ikut dibawa dengan menggunakan iringan kendaraan mulai dari Ketapang sampai markas Yon Zipur.
Dalam kirab tersebut, Wali Kota Probolinggo Rukmini, Sekdakot dr. Bambang Agus Suwignyo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tutang Heru Aribowo, Kepala Dinas Perikanan Budi Krisyanto, serta Asisten Pemerintahan Acep Syarif Hidayat ikut serta.
“Tentu kami patut bersyukur masih dipercaya menerima Adipura karena tidak semua kabupaten/kota memiliki kesempatan yang sama seperti Kota Probolinggo. Apalagi, kami sudah mampu mempertahankannya selama 11 tahun berturut-turut,” terang Wali Kota Probolinggo, Hj.Rukmini disela – sela waktu kirab.
Saya, imbuh Rukmini, sangat berterima kasih atas partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kota Probolinggo. Namun saya juga mengingatkan agar masyarakat terus meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan
Salah satu kebijakan yang dibuat Wali Kota Probolinggo untuk menjaga kota selalu bersih yakni Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melaksanakan bersih-bersih di beberapa sudut kota setiap Jumat pagi.
Selain diikuti oleh sejumlah pejabat pemkot, kirab Adipura diikuti oleh ratusan pegawai di DLH. Termasuk di antaranya pegawai kebersihan serta petugas pertamanan yang ikut bertugas dalam menjaga kebersihan kota. Termasuk, keempat warga sekolah yang mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri.
Saat pawai melintasi Jl. Soekarno-Hatta, ratusan siswa MAN 2 tampak berdiri, berjejer di pinggir jalan menanti arak-arakan. Maklum, lokasi kirab melewati sekolah mereka. Mereka pun dengan bangga bersorai menyambut piala-piala yang diraih Kota Probolinggo.
Lebih lanjut, Wali Kota Rukmini mengungkapkan ada 2 hal yang perlu dievaluasi. “Pertama, dari kondisi sungai yang kotor. Dan kedua, dari kondisi permukiman yang kumuh. Terutama di wilayah utara,” ujarnya.
Sungai yang kotor ini didapati di Kali Banger sisi utara. Meskipun sudah ada tim yang membersihkan, namun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihannya masih kurang.
“Sudah dibersihkan sungainya, warga masih buang sampah lagi ke sana. Dibersihkan lagi, buang lagi ke sana. Hal ini perlu kesadaran dari warga masyarakat,” ujar wali kota perempuan pertama di Probolinggo ini.
Hal yang sama juga terjadi untuk kawasan permukiman warga di wilayah utara. Jalan-jalan permukiman dijadikan untuk tempat menjemur. “Akhirnya, permukiman jadi kumuh,” ujarnya. Dua hal ini menjadi catatan penting untuk lebih mendapat perhatian pada penilaian Adipura 2018._stebbyjulionatan

