Fenomena antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak hanya terjadi jelang harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi naik, tapi juga terjadi saat harga BBM turun.
Setelah ditetapkan pemerintah harga bensin turun menjadi Rp 6.700 per liter pada 19 Januari lalu, antrian di beberapa SPBU di Probolinggo tampak mengular, bahkan habis.
Asmen External Relation Pertamina Marketing Operation Region V, Heppy Wulansari, mengatakan, Pertamina tak ada niatan untuk mengurangi distribusi BBM. Namun sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan penurunan harga BBM beberapa waktu lalu, ia mengaku pengusaha SPBU di kota malah mengurangi permintaan yang biasanya mereka ambil.
“Malah ada yang gak nebus sama sekali karna takut rugi. Padahal biasanya (menebus) sampe 24 kiloliter. Ini cuma 8 (kiloliter) saja,” sebutnya.
Meskipun, lanjut Heppy, Pertamina sudah menyatakan bahwa pasca pengumuman penurunan harga BBM, penebusan menggunakan harga baru yang lebih murah. Karenanya, ia menilai wajar bila stok BBM di SPBU cepat habis. ”Masyarakat pastinya juga panik, sehingga semuanya berebut mengisi full tank kendaraannya,” nilainya.
Sementara itu, dikonfirmasi usai melakukan monitoring SPBU, Kasi Minyak dan Gas Bumi Tri Setyo Anggodo menyampaikan, stok BBM sudah cukup. Akan tetapi pasca pengumuman yang dilakukan Jumat (16/1) lalu, para pengusaha SPBU menghabiskan stok BBM dengan harga lama. “Kesannya langka ya, padahal enggak. Karna mereka (pengusaha SPBU) juga baru melakukan order setelah info penurunan itu, dan Pertamina ternyata enggak memenuhi sepenuhnya. Tujuannya, agar semua SPBU kebagian. Jadi rata,” katanya.
Terkait kondisi tersebut, ia pun menghimbau masyarakat agar tidak panik dan menyikapi hal ini dengan sewajarnya. “Gak usah panik dengan menyerbu setiap pom, wajar saja. Pedagang eceran juga kami himbau agar tidak memanfaatkan situasi ini dengan melambungkan harga BBM eceran kelewat tinggi sehingga menyusahkan lainnya,” terang Tri menutup wawancaranya dengan Suara Kota. (nea)
