Probolinggo, 1/4/2019 – Sejumlah 600 orang petani berkumpul di Jalan Jambu Kelurahan Sumber Wetan Kecamatan Kedopok, Senin(1/4). Mereka mengikuti agenda panen raya padi hibrida yang digelar Koperasi Tani Nelayan Sejahtera (KTNS). Sekitar 3.000 merpati dilepas oleh Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin. Hadir pula Wakil Ketua DPRD Roy Amran, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ahmad Sudiyanto, Kepala Disperta KP, Sukarning serta para pimpinan perbankan.
“Penggunaan padi hibrida diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan produksi padi. Kendalanya, masih rendahnya penggunaan benih varietas unggul bermutu yang disebabkan pengetahuan minim dan kesadaran petani dalam pemakaian benih bermutu,” urai Wali Kota dalam sambutannya.
Mantan anggota DPR RI ini mengingatkan besarnya peran petani dalam meningkatkan produksi pertanian. Untuk itu, ia berharap para petani menerapkan sapta usaha tani yaitu, penggunaan benih unggul, pengolahan lahan, pengairan, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, penanganan pasca panen, serta pemasaran hasil.
“Disamping penggunaan bibit unggul, untuk menyikapi permasalahan ketersediaan pupuk, saya berharap jangan bergantung pada pupuk pabrik khususnya pupuk urea. Silahkan pakai pupuk organik sebagai alternatif,” imbuhnya.
Bapak 3 orang anak ini menjelaskan, jika sejak tahun 2014 Pemerintah Kota telah membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi tingkat usaha tani, jalan usaha tani dan rumah pompa yang tersebar di 5 kecamatan. Tujuannya mengurangi kehilangan air irigasi. Selain itu agar dapat merasakan manfaatnya diharapkan para petani ikut memelihara fasilitas tersebut.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga menyampaikan berbagai kebijakan baru yang masuk dalam 99 hari program kerjanya. Termasuk ada dialog dengan para petani, untuk menampung aspirasi mereka. Beberapa petani bertanya seputar kondisi panen padi yang terjadi penurunan dan meminta solusinya.
Wali Kota menjawab serta memotivasi agar para petani mengubah kebiasaan yang salah, agar saat panen sesuai harapan dan tidak terjadi penurunan. Apalagi sudah ada alat yang dimiliki petani digunakan untuk mengukur kadar HB-nya sebelum ditanami.
“Apabila mengalami kesulitan dana, ada perbankan yang memberi kemudahan bagi petani. Namun perlu diingat, konsekuensinya jika meminjam di bank harus rutin melakukan pembayaran. Agar tidak membebani harus ada pendampingan dan edukasi. Termasuk lahan yang ada bisa dimanfaatkan agar produktif,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sukarning menjelaskan jika padi hibrida jauh lebih menguntungkan dibanding padi biasa. Hasilnya bisa mencapai 10-14 ton per hektar, sedangkan padi biasa hanya mencapai maksimal 8 ton. Namun harga bibitnya lebih mahal dibandingkan padi biasa.
“Sekarang ini masih uji coba bagi petani untuk menanam padi hibrida di pekarangan, dengan hasil 10,5 ton. Biayanya mencapai 10 juta rupiah per hektar, kita menginginkan ke depan memakai padi hibrida semua. Memang ada perlakuan khusus penggunaan pupuk menanam padi jenis ini, harus berimbang,” jelasnya. (yul)
