
Probolinggo, 2/2/2016. Hamparan eceng gondok di Ranu Sentong, Kelurahan Jrebeng Wetan Kota Probolinggo nampak begitu indah. Namun sayangnya tanaman yang berasal dari Negara Brasil ini dianggap mengganggu kebersihan Ranu.
Pasalnya, eceng gondok yang sudah mati akan menumpuk sedikit demi sedikit kepermukaan, sehingga seiring berjalannya waktu perairan pun menjadi dangkal.
Selain itu, karena pertumbuhannya yang begitu cepat, maka gulma ini mampu menutupi seluruh perairan. Dampaknya jumlah cahaya yang masuk ke dalam air akan semakin berkurang dan tingkat kelarutan oksigen pun akan berkurang.
Kondisi tersebut seperti yang dapat ditemui di Ranu Sentong. Sehingga sudah sewajarnya Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat melakukan kegiatan pembersihan Ranu dari gulma eceng gondok atau dalam bahasa latin disebut juga “Eichhornia Crassipes”.
Agenda pembersihan eceng gondok telah dilakukan sejak awal Januari 2016 lalu, hingga saat berita ini dituliskan aktivitas masih berlangsung.
Menurut Dulapi, staf Kelurahan Jrebeng Wetan yang ditemui Suara Kota (2/2) sedang mengawasi pekerja di pinggir Ranu Sentong. Kegiatan pembersihan biasanya membutuhkan waktu hampir sebulan.
“Kalau dari pengalaman tahun lalu, biasanya pembersihan baru selesai 25 hari-an, itu pun dengan jumlah pekerja 23 – 25 orang”, ungkap Dulapi.
Akan tetapi, dari pantauan Suara kota hari itu hanya terhitung 11 orang yang melakukan pembersihan eceng gondok. Jika diprediksi maka pembersihan Ranu Sentong akan membutuhkan waktu, lebih dari satu bulan lamanya.
Ketika ditanya tentang para pekerja kebersihan tersebut, Dulapi menjelaskan bahwa mereka adalah warga sekitar lokasi ranu yakni Kelurahan Jrebeng Wetan dan Jrebeng Kulon.
Dulapi juga menambahkan, seusai pembersihan ecek gondok di perairan, selanjutnya dilakukan pengangkutan eceng gondok ke TPA. Setiap harinya petugas BLH menggunakan 2 (dua) kendaraan truk pengangkut sampah yang mengirim eceng gondok ke TPA untuk selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos. (Ok/SD)
