Siapa sangka ide kreatif yang muncul dari Benjamin Mangitung justru diperhitungkan dan layak meraih rekor MURI. Tidak tanggung-tanggung Ekowisata Bee Jay Bakau Resort (BJBR) Kota Probolinggo miliknya, meraih 3 penghargaan sekaligus dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Tiga penghargaan itu diantaranya patung kuda “Cipta Wilaha” terbesar, piramida terbesar dari rangkaian botol bekas dan jembatan terpanjang di atas laut untuk bersepeda.
Benjamin Mangitung menerima penghargaan itu dari Senior Manajer Tim Muri, Jusuf Ngadri, Senin (28/8) lalu. Ikut menyaksikan penyerahan pencatatan rekor MURI, Wali Kota Rukmini, Asisten Administrasi Umum Rey Suwigtyo, Kabag Humas dan Protokol Prijo Djatmiko, Kabag Umum Sugito Prasetyo.
Rekor tersebut berada di urutan 8070, 8071 dan 8072, dan cukup sulit dikalahkan di tahun ini. Seperti yang disampaikan Senior Manager Tim Muri Jusuf Ngadri, jika pembuatan patung kuda dari kayu setinggi 7,5 meter sulit tertandingi sejauh ini, karena diperlukan biaya besar untuk pembuatannya.
‘Kita awalnya mencari sesuatu yang ada di Probolinggo. Selama ini Probolinggo identik dengan Gunung Bromo dan buah mangga. Kini, ternyata ada wahana ekowisata bakau yang unik, di dalamnya ada patung kuda terbesar terbuat dari kayu yang berukuran sangat tinggi, piramida botol bekas, serta jembatan diatas laut yang sangat panjang (cycling track). Maka setelah berkoordinasi dengan BJBR, kita datang kemari karena mampu pecahkan rekor MURI,” paparnya.
Ia tertarik dengan Piramida yang menghabiskan 11 ribu botol bekas sebagai simbolisasi pemanfaatan barang bekas itu. Termasuk jembatan diatas laut bagi pesepeda ada 2 macam, untuk lebar 4 meter sepanjang 845 meter sedangkan lebar 2 meter sepanjang 800 meter.
Owner BJBR Benjamin Mangintung mengatakan, “Saya hanya ingin berkarya, tidak memikirkan penghargaan. Saya memikirkan bagaimana bisa menjadi manfaat bagi warga Kota Probolinggo khususnya dan bagi Indonesia kalau bisa. Bagi kami membangun sebagai bentuk mengekspresikan karya sebagai ikon,” ujarnya.
Ia menceritakan, dasarnya membangun cycling track setelah melihat potensi hutan bakau di tepi kota. Selama ini bahkan tidak termanfaatkan dan menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga.
“Bagaimana masyarakat bisa datang dengan kondisi kotor dan banyak tumpukan sampah. Maka harus dibersihkan dan harus dibuat sarana agar bisa berjalan untuk menikmati hutan bakau. Betapa pentingnya keberadaan hutan bakau dan saya ingin memberikan pelajaran ini kepada masyarakat. saya juga ingin memberikan hiburan kepada warga Kota Probolinggo,” ujar pengusaha ini.
Sedangkan berkaitan dengan piramida dari botol bekas, ide itu muncul setelah teringat kalimat yang diucapkan wali kota saat menghadiri acara bernuansa lingkungan.
“Kalimat reuse, reduce dan recycle inilah yang menginspirasi agar botol bekas ini tidak hanya menjadi sampah. Lalu teringat di Paris negara Prancis ada piramida disana, akhirnya tercipta ide pembuatan piramida dengan teknologi yang sederhana. Karena jika meniru seperti disana butuh biaya besar, sehingga harus kreatif namun menarik dan irit biaya,”jelasnya.
Sedangkan ide untuk membuat patung kuda wilaha terinspirasi oleh kuda yang pernah dibuat oleh kerajaan dari negara Yunani. Ia mengibaratkan seperti Kota Probolinggo, meski kecil wilayahnya dan sumber daya alam nya tidak ada.
“Yang dulunya mereka hanya lewat saja di Kota Probolinggo, saya ingin agar mereka bisa singgah, menginap disini. Maka jelas harus ada sesuatu agar mereka mau membelanjakan uangnya disini. Ini adalah falsafah kecerdikan dan strategi mengalahkan kekuatan,” imbuh pria bertopi cowboy ini.
Saat ini terbukti apa yang menjadi impiannya menjadi kenyataan. Semua orang bisa menikmati keberadaan BJBR melalui media facebook, instagram, website dikunjungi ribuan orang. Benjamin pun berpesan kepada seluruh warga Kota Probolinggo untuk lebih mencintai kotanya. ”Cintailah kotamu, banggalah dengan kotamu. Kita ini bukan tidak punya apa-apa, tapi kita ini ada apa-apanya dan ada sesuatu yang bisa dibanggakan,” ungkapnya.
Rencana dikembangkan akan terus bergulir karena memang luas wilayahnya 89 ha. Namun tidak bisa serta merta tanpa perhitungan.”Kita tidak bisa grusa grusu, melihat modal kami, antusiasme masyarakat, serta bagaimana masyarakat mengapresiasi apa yang kami kerjakan. Jika baik kita buat karena bukan hanya berpijak pada sektor ekonomis. Tapi hiburan yang terjangkau khususnya bagi warga Kota Probolinggo membayar 50 persen saja. Pada hari Kamis, bagi yang nggowes kita gratiskan. Itulah bentuk CSR kami, karena sekarang tidak lagi puluhan, tapi ratusan peminatnya bersepeda pada hari yang free itu,” ucapnya bangga.
Tidak hanya disitu acara penerimaan penghargaan rekor muri dilanjutkan tasyakuran dan penyerahan bantuan kepada anak yatim, di sore hari. (yul*)

