Inflasi di Akhir Tahun 2014

TDipenghujung tahun 2014, Kota Probolinggo mengalami Inflasi sebesar 2,15%. Hal ini terjadi karena kenaikan dari 7 (tujuh) kelompok, diantaranya kelompok makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.
Penghitungan inflasi ini didasarkan pada hasil pemantauan/pendataan harga barang dan jasa yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo pada pasar-pasar tradisional dan modern, seperti : Pasar Baru, Pasar Wonoasih dan Giant Hypermart.
Tingkat inflasi diukur dari presentase perubahan Indek Harga Konsumen (IHK). IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) ditingkat konsumen khususnya di daerah perkotaan.
Namun, tidak hanya di Kota Probolinggo saja, di tujuh kota lain yang ada di Jawa Timur juga mengalami inflasi. Kota Probolinggo menempati urutan terakhir dari delapan Kota yang ada. Posisi pertama dengan tingkat kenaikan inflasi sebesar 2,72% terjadi di Kota Malang, disusul Jember sebesar 2,64%, Sumenep sebesar 2,60%, Kota Kediri sebesar 2,52%, Banyuwangi sebesar 2,50%, Kota Surabaya sebesar 2,23%, Kota Madiun sebesar 2,20%, dan terakhir Kota Probolinggo sebesar 2,15%.
Menurut Surya Astuti, Kepala BPS Kota Probolinggo, secara umum, kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan lainnya mendongkrak inflasi yang cukup tinggi. “Kenaikan inflasi ini banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga bensin premium, beras, solar, tahun mentah, angkutan antar kota, angkutan dalam kota, telur ayam ras, tempe, tongkol/ambu-ambu, tarif listrik dan lainya.”
Masih menurut Surya, meskipun ada beberapa komoditas yang memberikan sumbangan untuk terjadinya inflasi, namun masih ada beberapa komoditas yang memberikan sumbangan untuk terjadinya deflasi, seperti daging ayam ras yang mengalami penurunan harga, telepon seluler, cumi-cumi, tongkol pindang, komputer tablet, ikan merah, jagung muda, rempela hati ayam, semangka, teri dan lainnya.
“Penyebab utama inflasi di Kota Probolinggo pada bulan Desember 2014 sebesar 2,17% terjadi karena kenaikan indeks harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 5,90% dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 1,1431%. Hal ini terjadi karena kenaikan harga bensin premium sebesar 14,7701% dan menyumbang inflasi sebesar 0,7555%, solar naik sebesar 17,79% dan menyumbang inflasi sebesar 0,2164% “, lanjut Surya.
Namun, meskipun kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi, menurut Surya ada satu komoditas yang mengalami penurunan indeks atau deflasi yaitu telefon seluler yang mengalami penurunan sebesar 7,7700% dan menyumbang deflasi sebesar 0,0422%.
Dorongan inflasi semakin besar akibat naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,44% dengan kontribusi sumbangan inflasi sebesar 0,6229%. Komoditas yang mengalami kenaikan pada kelompok ini antara lain beras sebesar 6,0935% dengan kontribusi sumbangan inflasi sebesar 0,3145%, tahu mentah mengalami kenaikan sebesar 12,7032% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0862%.
“pada kelompok makanan, ada komoditas yang menghambat inflasi antara lain daging ayam ras yang mengalami punurunan sebesar 6,4458% dan menyumbang deflasi sebesar 0,0537%, cumi-cumi juga turun sebesar 13,7145% dan menyumbang defiasi sebesar 0,0421%,” ungkap Surya.
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 0,27% dan ikut memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,0451%. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain rokok kretek filter yang mengalami kenaikan sebesar 0,6533% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0115%, gado-gado naik sebesar 5,7899% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0091%.
Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,96% dengan kontribusi inflasi sebesar 0,1762%. Komoditas yang menjadi penyebab utama pada kelompok ini adalah tarif listrik yang mengalami kenaikan sebesar 1,76% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0494%. Komoditas lain yang mengalami kenaikan pada kelompok ini adalah pembasmi nyamuk yang mengalami kenaikan sebesar 14,1852% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0201%.
Menurut Surya, pada kelompok ini, walaupun mengalami inflasi pada Bulan Desember 2014, tetapi ada satu komoditas yang memberikan share negatif terhadap laju inflasi yaitu sabun detergen bubuk/cair yang mengalami penurunan sebesar 0,3117% dan memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,0017%.
Pada Kelompok Sandang, mengalami inflasi sebesar 1,21% dan ikut andil mendorong inflasi sebesar 0,075%. Pada kelompok ini, komoditas yang ikut menyumbang inflasi antara lain emas perhiasan yang mengalami kenaikan harga sebesar 2,5209% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0375%, kerudung/jilbab naik sebesar 6,6274% dan turut menyumbang inflasi sebesar 0,0092%.
“pada kelompok sandang ini, satu-satunya komoditas yang memberikan share negative terhadap inflasi yaitu sarung katun yang mengalami penurunan sebesar 1,3833% dan menyumbang deflasi sebesar 0,0008%,” lanjut Surya.
Kelompok berikutnya yaitu kelompok kesehatan yang mengalami inflasi sebesar 1,08% dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,0505%. Pada kelompok ini, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi adalah jamu yang mengalami kenaikan harga sebesar 8,3324% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0129%, pijat non medis naik sebesar 18,7499% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0093%
Kelompok terakhir yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,34% dan menyumbang laju inflasi sebesar 0,0312%. Komoditi yang menyumbang laju inflasi pada kelompok ini antara lain laptop/notebook yang mengalami kenaikan sebesar 4,2475% dan ikut menyumbang inflasi sebesar 0,0231%, televisi berwarna naik sebesar 1,695% dan menyumbang inflasi sebesar 0,0101%.
Namun pada kelompok ini terdapat komoditas yang memberikan share negative terhadap inflasi. “komputer tablet termasuk menghambat inflasi karena menunjukan penurunan harga sebesar 7,25% dan menyumbang deflasi sebesar 0,0148%.” Ujar Surya menutup pembicaraan. (SD)