INFLASI MENJELANG RAMADHAN

DSCN0044

Probolinggo, 3/6/2015. Jelang Ramadhan tahun ini, Kota Probolinggo kembali mengalami inflasi. Menurut Surya Astuti, Kepala BPS Kota Probolinggo, pada bulan Mei 2015, Kota Probolinggo mengalami inflasi sebesar 0,46 persen dan menempati urutan ke-2 dari 8 kota di Jawa Timur yang menjadi kota IHK Nasional.

“dari 8 kota tersebut, semuanya mengalami inflasi. Tertinggi terjadi di Banyuwangi sebesar 0.55 persen, disusul Kota Probolinggo sebesar 0,46 persen, Kota Malang sebesar 0,45 persen, Sumenep sebesar 0,43 persen, Jember dan Kota Surabaya sebesar 0,39 persen, Kota Madiun sebesar 0,34 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Kediri sebesar 0,21 persen”, terang Surya saat melakukan dialog interaktif pagi (3/6) tadi di Radio Suara Kota Probolinggo.

Menurut Surya, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi ini adalah kenaikan harga telur ayam ras, daging ayam ras, beras, bawang merah, cabai merah, kayu balokan, udang basah, rokok kretek, sabun detergen cair/bubuk, cumi-cumi dan lainnya.

Kasi Statistik Distribusi BPS Kota Probolinggo, M. Machsus yang juga hadir dalam dialog interaktif tersebut juga menambahkan, meskipun ada beberapa harga kebutuhan pokok yang turun dan memberikan sumbangan terhadap terjadinya deflasi, tetapi hanya memberikan pengaruh kecil atas terjadinya inflasi.

“ada komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi, seperti tongkol pindang, ikan tongkol, tomat, sayur, cat tembok, mobil dan lainnya, meskipun turunnya ini kecil, tapi memberikan andil untuk menekan laju inflasi di bulan Mei”, ungkap Machsus.

Sementara itu, Imam Nurcholik, perwakilan dari Bagian Perekonomian Setda Kota Probolinggo yang turut hadir dalam dialog tersebut mengungkapkan, sejauh ini usaha Pemerintah Kota Probolinggo untuk menekan laju inflasi telah dilakukan.

“Kota Probolinggo telah memiliki TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) dan kami sudah melakukan kerja sama dengan Kabupaten Probolinggo untuk meminimalisir kekurangan stok barang menjelang Ramadhan tahun ini. seperti contohnya daging sapi, nantinya sapi dari Kabupaten akan di potong di Kota, sehingga stok daging bisa terpenuhi selama pra Ramadhan dan menjelang lebaran”, terang Imam.

Menanggapi itu, Surya menambahkan bahwa kecenderungan masyarakat Kota Probolinggo untuk memborong barang-barang kebutuhan pokok menjelang Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi. “ibu-ibu harus cermat membelanjakan uang, tindakan pemborongan menjelang Ramadhan dan lebaran tersebut juga memicu terjadinya inflasi, yang menjadi kendala adalah karena hal ini dianggap sebagai budaya, sehingga setiap tahunnya, jika menjelang Ramadhan, kecenderungan harga barang menjadi naik dan menyebabkan terjadinya inflasi. Tidak hanya di Kota Probolinggo, tapi juga di kota-kota lain di seluruh Jawa Timur, bahkan di Indonesia”, tutup Surya. (SD)