PROBOLINGGO(16/11)- Perkembangan batik di kota Probolinggo semakin pesat, ditandai dengan semakin banyaknya pengrajin batik yang bermunculan ataupun masyarakat yang menggunakan batik dalam kehidupan sehari- hari, baik untuk acara formal maupun non formal.
Selain batik Manggur (Mangga dan Anggur) yang menjadi ikon batik kota Probolinggo, beberapa motif batik juga terus dikembangkan, salah satunya adalah motif “Jaran Bodhag” yang merupakan kesenian asli kota Probolinggo.
Yusriani salah satu pebatik yang ikut serta dalam Festival Batik Kota Probolinggo Tahun 2017 yang digelar tadi pagi mengatakan jika dirinya menggeluti dunia batik sejak tahun 2009 dibekali dengan beragam work shop dan pelatihan batik yang digelar oleh Pemerintah Kota Probolinggo.
“Kami mulai usaha batik sejak tahun 2009 setelah suami saya resign dari tempat kerja dan memilih berwirausaha batik karena memang pengrajin disamping juga sering ikut pelatihan. Biasanya minimal kita bisa produksi 30 potong per bulan, tapi kalau ada pesanan bisa ratusan,” katanya.
Lebih lanjut perempuan berusia 43 tahun yang memiliki ini menambahkan, selain Manggur sebagai ikon kota Probolinggo saat ini dirinya turut serta mengembangkan motif Jaran Bodhag untuk melestarikan kesenian asli daerah melalui motif batik.
“Awalnya ada yang pesan seragam motif Kuda Troya untuk acara Semipro, tapi menurut saya terlalu kaku. Jadi saya pilihkan Jaran Bodhag karena lebih indah dan penuh warna terlebih lagi ini kesenian khas kota Probolinggo. Dimana setiap pebatik punya cirinya sendiri untuk motif Jaran Bodhag,” imbuhnya.
Ditemui di tempat yang sama, Pandu Satria Hutama Kasi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata kota Probolinggo mengungkapkan jika motif batik asli Probolinggo yang ada di museum Belanda ada 129 motif antara lain, Motif Bak Boyo, Kerangan, Anak Merak, Camalas, Pandan Leces, dan masih banyak lagi.
“Kita mau mengembangkan motif yang ada di National Museum World Culture (NMWC) Belanda, tahun kemarin kita ambil desainer dari Yogyakarta untuk membuat replika batik asli Probolinngo sebanyak 129 motif. Kedepannya kalau pebatik kota Probolinggo bisa mengambangkan motif batik tersebut,” ujarnya.
Pria berkacamata itu menambahkan jika salah satu kendala untuk penjualan batik kota Probolinggo adalah pada segi pemasaran karena tidak hanya bergantung pada promosi saja yang sudah dilakukan secara maksimal oleh Pemerintah kota Probolinggo.
“Kedepan harapannya bisa membuat sentra batik seperti di Yogyakarta punya Kampung Batik, kalau disini tempatnya masih terpisah- pisah. Untuk itu dibutuhkan lahan khusus untuk dijadikan sentra batik yang isinya paguyuban batik, show room, kegiatan membatik, dan lain sebagainya,” ujarnya. (Crl)

