Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo) merupakan pesta rakyat dan ajang bergengsi yang digelar oleh pemerintah kota Probolinggo. Dalam rangkaian acara bergengsi tersebut juga ditampilkan berbagai seni dan budaya.
seperti yang tampak pada Jumat-Sabtu (11-12/8) yang lalu Disbudpar Kota Probolinggo berkolaborasi dengan himpunan musisi keroncong Kota Probolinggo menyelenggarakan pagelaran lomba menyanyi keroncong tingkat pelajar. Lomba ini diikuti oleh para pelajar se-Kota Probolinggo, mulai dari tingkat SD/MI sampai dengan SMA/SMK/MA sederajat.
Jum’at (11/8) digelar babak penyisihan yang mengambil lokasi di Gedung kesenian area Museum Probolinggo. Ditemui saat babak penyisihan berlangsung Kabid Budaya Endarwati kepada Suara Kota mengatakan,” selain untuk melestarikan musik tradisional, lomba ini sekaligus jadi ajang menyalurkan minat masyarakat yang mempunyai bakat menyanyi. Sebelumnya Kita mengirim undangan keseluruh sekolah-sekolah se-Kota Probolinggo, mulai dari SD/MI sampai SMA/SMK/MA sederajat dan kita juga tidak membatasi sekolah untuk mengirimkan perwakilannya, boleh mengirim lebih dari satu peserta.”
“untuk menjaga kenetralisiran lomba Kali ini, Disbudpar mendatangkan juri dari Jember, Lumajang, dan Malang untuk menilai penampilan para peserta dengan teknis penilaian meliputi penampilan, teknik vokal dan penjiwaan. Untuk musik pengiring kita datangkan dari grup musik kroncong Tentrem untuk lagu yang dibawakan oleh para peserta adalah lagu pilihan, diantaranya Tanah Air, Selendang Sutra, Bengawan Solo, dsb.” Imbuh Novi Bayu Kasi Budaya Disbudpar.
Pada Sabtu malam (12/8) di halaman Museum Probolinggo digelar grand final lomba menyanyi keroncong. Acara dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Akhmad Sudianto, dan para undangan. Dalam sambutannya pria yang akrab disapa Sudi ini sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. “Saya sangat bangga kepada para peserta dalam lomba ini, karena selama ini keroncong lebih dipandang sebelah mata, mengingat generasi sekarang lebih cenderung mendengarkan musik yang kebarat-baratan. Ini menunjukkan bahwa generasi muda masih peduli dengan budaya lokal,” katanya. Dia juga sangat berterima kasih kepada para pembina kesenian keroncong dan mendorong untuk terus berkesenian.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Agus Efendi juga menyampaikan “Keroncong merupakan salah satu warisan budaya yang harus kita lestarikan, oleh karena itu melalui lomba ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda terhadap musik keroncong.”
Ia juga mengajak para sesepuh di musik tradisional ini untuk mengajar para pelajar di tingkat SD, SMP dan SMA sehingga dapat menumbuh kembangkan bakat-bakat dan minat para pelajar dalam mempelajari keroncong. ”Karena tanpa diajarkan bagaimana generasi muda bisa mengenal dan mencintai musik keroncong,” lanjutnya.
Agus pun mengatakan bahwa tahun ini sangat mengalami kemajuan yang sangat signifikan. “Selain diikutkannya siswa SD tahun ini, peserta kali ini meningkat pesat dua kali lipat,” kata Agus. Tahun ini, peserta keroncong remaja berjumlah 82 orang, dengan rincian peserta SD 22 orang, SMP/MTs berjumlah 27 orang, dan 33 peserta dari tingkat SMA/sederajat.

