Mengenal Penyakit Bipolar

Probolinggo,13/4/2015. Setiap individu berpotensi mengalami gangguan kejiwaan, namun tahapannya bisa saja berbeda-beda. Ada yang masuk dalam tahap ringan namun ada juga yang masuk dalam tahap berat. Bipolar sendiri merupakan gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa depresi dan mania.

Menurut dr. Anna Purnamasari Sugijanti, gangguan bipolar ini bukanlah penyakit yang baru. “pada era 1970-an, disebut juga dengan edan tahunan, “setengah tahun edan setengah tahun waras” (setengah tahun sakit jiwa, setengah tahun sehat) atau “saben tahun kumat edan” (setiap tahun kumat sakit jiwanya)”, ujarnya saat melakukan dialog interaktif di Radio Suara Kota Probolinggo beberapa waktu lalu.

Penyakit ini ditandai dengan adanya episode mania, hipomania, depresi dan campuran. “mania merupakan suatu sindrom perilaku yang manifestasinya adalah mood yang elasi (eforia) atau sangat iritabel yang disertai dengan beberapa tanda-tanda lainnya, misalnya berkurangnya kebutuhan tidur, percaya diri yang berlebih, bicaranya banyak dan cepat, adanya lompatan gagasan, mudah beralihnya perhatian, dan hiperaktivitas psikomotor”, lanjut dr. Anna

Penderita gangguan bipolar terjadi secara berulang dan berlangsung seumur hidup. Penderita gangguan ini tidak terlihat, mereka sama seperti orang normal kebanyakan. Penyakit ini dapat diobati namun tidak dapat disembuhkan.

“depresi bipolar sering sulit dibedakan dengan depresi mayor. Biasanya juga ditandai dengan hilangnya mood, minat, hilangnya rasa senang, menurun atau meningkatnya nafsu makan, berkurangnya harga diri, atau lebih parah lagi dapat bunuh diri dengan atau tanpa rencana”, ujarnya

Penyebab gangguan bipolar ini menurut dr. Anna, bermacam-macam. “bisa karena faktor keturunan (genetik), perubahan struktur otak dan turunnya kadar serotonin di otak, gangguan hormon dan sistem imun”, lanjutnya.

Masih menurut dr. Anna, gangguan bipolar ini bisa disertai dengan penyakit fisik maupun penyakit jiwa yang lain. “beberapa gangguan medis yang paling sering ditemukan pada pasien dengan penyakit bipolar adalah gangguan kardiovaskuler, gangguan endokrin seperti diabetes melitus, hiperlipidemia dan obesitas”, ujarnya.

Selain beberapa penyakit diatas, dr. Anna juga menambahkan, penyakit seperti migrain, gangguan pernafasan, gangguan tiroid serta penyakit infeksi juga dikatakan lebih besar prevalensinya terjadi pada pasien dengan gangguan bipolar menurut beberapa studi.

“pada penelitian terakhir, menunjukkan bahwa ada hubungan antara epilepsi dengan gangguan mood, seperti gangguan bipolar”, tambah dr. Anna

Untuk menghindari penyakit bipolar ini, dr. Anna memberikan beberapa saran, seperti lebih terbuka jika terjadi suatu masalah serta tidak menunda dalam menyelesaikan masalah. “selain itu, penting untuk mengakui perasaan yang kita rasakan, jangan menutupi atau menyangkalnya, jangan sungkan atau takut mendatangi psikiater jika dirasa itu perlu”, tutup dr. Anna (SD)