Probolinggo,5/4/2015.Keberadaan hutan mangrove disuatu daerah, memiliki nilai yang sangat besar, karena selain memiliki fungsi ekologis, hutan mangrove juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi sehingga keberadaanya perlu diperhatikan.
Begitu pula yang terjadi di Kota Probolinggo, hutan mangrove perlu mendapatkan perhatian khusus karena selain memberikan manfaat yang besar bagi petani tambak, keberadaan hutan mangrove ini juga dapat mengundang ikan, udang dan kepiting sehingga produksi tambak akan bertambah.
Melalui kelompok tani sinar pagi kelurahan ketapang, keberadaan hutan mangrove di Kota Probolinggo mulai mendapatkan perhatian. Kelompok tani ini berhasil mendapatkan bantuan dari lembaga donor Wetland yang berkantor pusat di Bangkok, Thailand melalui kegiatan MFF (Mangrove For The Future).
Saat ini, kegiatan utama dari kelompok tani sinar pagi, selaian sebagai tani tambak dan nelayan, juga melakukan pembibitan dan penanaman mangrove, bahkan tidak hanya itu saja, mereka juga mulai memanfaatkan mangrove untuk diolah menjadi makanan.
Menurut Muchlis, ketua kelompok tani sinar pagi yang ditemui saat melakukan talkshow beberapa waktu lalu, fasilitasi hibah kecil dari MFF ini dipergunakan untuk pembuatan bibit mangrove sebanyak 100.000 bibit dan kegiatan-kegiatan pemberdayaan kelompok tani sinar pagi lainnya.
“lokasi penanaman mangrove ini di Kelurahan Ketapang dan Pilang, masing-masing akan ditanami mangrove seluas 5 hektar”, ujar Muchlis. Kegiatan ini dilakukan karena kawasan hutan mangrove di Kelurahan Ketapang dan Pilang telah rusak akibat erupsi gunung Bromo.
Sementara itu, Kabid P3KLH Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo, Dwi Agustin Sri Rahaju, SP, M.Si mengungkapakan, BLH sebagai instansi pendamping dari proyek ini berharap agar potensi hutan mangrove yang berada di Kota Probolinggo ini nantinya juga dapat dijadikan kawasan ekowisata.
“jika demikian, maka konsep dan desain ekowisata yang diintegrasikan dengan pusat pembelajaran dan pembibitan mangrove di kawasan ini juga perlu dikembangkan. Jika sudah dijadikan kawasan ekowisata, maka diharapkan juga masyarakat pesisir akan terdorong untuk turut menjaga kelestarian mangrove. Generasi muda juga diharapkan tidak hanya menikmati keindahan mangrove saja, tetapi juga dapat belajar mengenai pentingnya keberadaan mangrove”, terang Sri.
Sri menambahkan, kedepan, dengan adanya konsep ekowisata ini, maka diharapkan konsep ini dapat diimplementasikan sehingga dengan adanya kegiatan ekowisata, masyarakat pesisir dapat memiliki pendapatan alternatif.
