Probolinggo, 15/4/2019 – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Probolinggo (Disbudpar) mendorong penyelesaian penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dalam rangka memajukan kebudayaan lokal daerah agar menjadi benteng yang kuat bagi generasi penerus terutama di Kota Probolinggo untuk tetap melestarikan budaya lokal.
Bertempatkan di ballroom Bromo Park Senin (15/4) siang tadi, sebanyak 100 orang seniman dan para budayawan di Kota Probolinggo berkumpul dalam pembahasan Rakor PPKD tersebut.
Tutang Heru Ariwibowo, Kepala Disbudpar Kota Probolinggo menjelaskan, kegiatan ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Dalam Rangka Melestarikan Seni Budaya dan nota dinas Wali Kota, untuk bisa lebih memajukan dan mengembangkan potensi-potensi budaya yang ada di Kota Probolinggo, dengan menampung aspirasi dari para seniman dan budayawan. “Sekaligus penyempurnaan pokok-pokok pikiran dalam mengunggulkan Kota Probolinggo,” jelasnya.
Dengan perkembangan global yang begitu dahsyat, yang bisa saja merusak generasi penerus, maka perlu dirumuskan pokok-pokok pikiran kebudayaan di Kota Probolinggo, sehingga dengan agenda ini dapat menjelaskan nilai-nilai kebudayaan sebagai benteng moral bagi generasi muda dan masyarakat di Kota Probolinggo untuk tetap melestarikan budaya lokal.
Senada dengan hal itu, Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zaenal Abidin pada saat membuka Rakor ini menyampaikan, selain untuk mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga untuk menampung aspirasi pokok pikiran kebudayaan antara pemerintah dan perwakilan masyarakat untuk ikut serta berkontribusi kepada pelestarian seni budaya pendalungan di Kota Probolinggo.
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota meminta para seniman agar tidak kehilangan ruang dalam berkarya dan miningkatkan kreativitasnya.
“Misal dengan kegiatan sholawatan, saya akan mengundang kesenian hadrah. Tidak mungkin saya mengundang kesenian tari. Jika ada tamu datang, baru disambut dengan kesenian tari-tarian. Semua saya posisikan pada tempatnya, jangan khawatir tersingkirkan, semua ada tempatnya masing-masing sehingga satu sama lain sama-sama hidup,” jelasnya.
Semua ia tempatkan sesuai dengan porsi dan peruntukannya masing-masing untuk tetap melestarikan budaya lokal yang ada di Kota Probolinggo. (Dev)

